• Jelajahi

    Copyright © News Krinkz
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Menu Bawah

    Kabar Bahagia untuk Kaum Muslimin yang Sedang Sakit

    Jumat, 27 Maret 2020, 22:44 WIB Last Updated 2020-07-07T19:30:17Z

    krinkzNews - Betapa banyak orang yang sebelumnya kuat dan sehat tiba-tiba menjadi lemah. Betapa banyak wanita yang sebelumnya cantik menjadi buruk rupa. Karena terserang suatu penyakit.

    Betapa banyak orang menjadi miskin karena hartanya terkuras habis untuk mengobati penyakitnya yang berkepanjangan.

    Semua itu realitas yang tampak di depan mata. Apatah lagi mengecam dan menghina. Kita menyaksikannya di rumah-rumah sakit, di gubuk sederhana hingga rumah-rumah mewah, di hotel sederhana hingga berbintang lima.

    Bagi mereka yang menyaksikannya hendaklah memandang dengan rasa bersyukur. Bila sehat, dia bersyukur bahwa ternyata Allah masih memberi kesehatan kepadanya. Bagi mereka yang sakit, ternyata ada orang yang jauh lebih menderita dari dirinya dan ia pun bersyukur karenanya.

    Bagi mereka yang miskin harta, bersyukur atas karunia Allah yang telah diberikan-Nya setelah melihat orang kaya terbaring lemah seolah tak berharga. Dia masih memiliki nikmat, yaitu nikmat sehat. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

    ***

    Bagaimana kita bisa menerima itu dengan sabar dan syukur jika hanya diam membisu dan mata tertutup dari kebenaran? Bagi mereka yang sakit hanya bisa menangis dan meringis. Hingga kemudian mati dalam keputus asaan. Sedangkan bagi mereka yang sehat, tidak sedikit pun pernah mau mengambil pelajaran.

    Kembalilah kepada hukum Allah. Kembalilah kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Itulah kuncinya. Keduanya ibarat perahu Nabi Nuh As. Siapa yang menaikinya, maka dia akan selamat dan bahagia.

    Para Nabi dan orang-orang beriman telah mengikuti jalan-Nya. Mereka itu contoh teladan yang dapat kita petik pelajaran.

    Mari menatap ke depan dengan layar terkembang penuh harapan. Sesungguhnya hari esok pasti lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Ombak badai menghantam, di tepian sana ada daratan. Naikilah perahu ini agar meraih keselamatan.

    ***

    Iman adalah kekuatan bagi setiap muslim. Bahkan dia lebih hebat daripada senapan mesin di medan jihad seperti Palestin. Meskipun mereka bersenjatakan ketapel tapi berani menyongsong tank baja Mirkava. Dengan iman seorang mujahid rela berkorban. Apa yang dia ketahui? Ya, masa depan. Nun jauh di sana tapi dekat di hati, ada surga untuk mereka, ada Allah yang akan menolong mereka, ada bidadar-bidadari yang tersenyum menyambut mereka, ada kemuliaan yang sedang menanti mereka.

    Bagaimana kalian bisa hidup tanpa iman? Karena akhirnya kalian tidak punya tujuan. Berjalan ke sana kemari tak tentu arah. Menganggap ada padahal fatamorgana.

    Manusia tanpa iman tidak paham jika Tuhan sedang memandangnya. Tidak memahami mengapa musibah ini terjadi. Yang dia inginkan hanya keluar dari kesulitan, entah bagaimana caranya!

    Manusia tanpa iman tidak berdoa, karena menganggap hasil yang ada adalah dari kerja kerasnya semata.

    Ketika penyakit tak kunjung sembuh, apakah yang muncul kemudian adalah keputus asaan? Ya, demikian kata Nabi Ibrahim ketika Allah menguji orang kafir dengan berbagai cobaan. Orang beriman mempercayai apa yang tidak dipercayai orang selainnya. Yaitu, Allah Tuhan mereka Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Bijaksana, Maha Adil, dan Maha Berkehendak. Tidaklah heran bila Allah mengangkat kemandulan istri Zakaria di usia tua. Lalu Dia memberinya Yahya. Nabi penerus sang ayah tercinta. Tidaklah heran bila Allah mengangkat penyakit Ayyub saat tangan-tangan tabib tak mampu mengobati. Tidaklah heran bila Allah menyembuhkan berbagai penyakit. Hal ini terpampang dengan jelas dalam sejarah. Aneh tapi nyata.

    Wahai Bilal, engkau berkulit hitam legam. Nenek moyangmu dari negeri Afrika. Siapa engkau dulu sebelum beriman, sebelum menjadi muadzin di Masjid Kenabian? Ah, engkau hanya budak belian. Tidak dikenal dan dilupakan!

    Iman mengangkatmu mulia wahai Bilal! Iman telah bersemayam dalam jiwamu wahai Bilal, bersamaan dengan himpitan batu yang menyesakkan dada. Bersamaan dengan panasnya terik sahara. Bersamaan dengan cambuk majikanmu, Umayyah!

    Wahai Umar, siapakah engkau sebelum ada iman? Bukankah engkau dulu hanya seorang preman? Tapi kini menjadi pemimpin orang-orang beriman. Ya, iman telah membimbingmu menuju cahaya-Nya yang terang benderang. Keluar dari kemungkaran menuju kemuliaan. Dari kebengisan menuju kadilan. Dari kemarahan menuju kelembutan.

    Wahai sahabat, siapa bilang hidupmu terhina karena sakit di pembaringan? Hidupmu mulia dengan iman. Harta kekayaan dan jabatan bukanlah patokan, apakah engkau hina atau bukan. Tetapi iman. Meskipun engkau berada di pembaringan. Atau berada di rumah yang sangat sederhana. Selama masih ada iman, itulah kemuliaan.

    Artikel ini merupakan hasil kerja sama antara PT Harian Krinkz Media Network dan   Penachandra.com.

    HARIANKRINKZ.COM tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini